top of page

Ketika Digitalisasi Menyelamatkan Sejarah Persyarikatan

Writer: Marketing LabMu
Marketing LabMu
6 days ago
3 min read

Selembar kertas kartu anggota yang sudah menguning termakan usia mungkin terlihat sederhana. Namun ketika kartu itu bertuliskan nama KH Mas Mansoer, tokoh besar yang pernah dilantik langsung oleh KH Ahmad Dahlan sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya pertama pada 1 November 1923, benda itu berubah menjadi artefak sejarah yang nyaris tak ternilai harganya.


Ditemukannya Kartu Anggota KH Mas Mansoer

Vintage ID card with portrait on a desk beside old books labeled H.A.P.E. Djokjakarta and Moehammadijah, with pen and magnifier.

Pada peluncuran Museum Visual Muhammadiyah Surabaya, bertepatan dengan Milad Muhammadiyah ke-111 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya, publik dikejutkan dengan satu koleksi istimewa: kartu tanda anggota Muhammadiyah milik KH Mas Mansoer. Ketua Panitia Milad, H Dikky Syadqomullah, menyampaikan bahwa para pengunjung merasa kagum sekaligus bersyukur karena kartu bersejarah tersebut ternyata masih ada dan berhasil diselamatkan berkat kerja keras tim Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.


Ketua MPID PDM Surabaya, Andi Hariyadi, mengungkapkan bahwa penemuan koleksi ini bukan perkara mudah. Di tengah berbagai keterbatasan, tim MPID berhasil menghimpun sejumlah benda bersejarah untuk dijadikan koleksi museum, sekaligus membuka pintu bagi keluarga besar dan simpatisan Muhammadiyah yang ingin menyumbangkan koleksi serupa untuk kepentingan dakwah dan edukasi.


Kisah ini menyingkap satu kenyataan penting: dokumen keanggotaan fisik, sekuat apa pun kertas dan tintanya, tetap rentan terhadap waktu, bencana, dan kelalaian penyimpanan. Kartu KH Mas Mansoer bisa jadi hanya satu dari sedikit yang selamat, sementara ribuan kartu anggota generasi awal lainnya mungkin sudah hilang tanpa jejak, terbawa banjir, dimakan rayap, atau sekadar terbuang saat rumah dibersihkan.


Dari Kertas ke Data: Urgensi Migrasi e-KTAM

Cerita penemuan kartu anggota KH Mas Mansoer sesungguhnya adalah cermin bagi Muhammadiyah hari ini. Jika sistem keanggotaan terus bergantung pada kartu fisik semata, risiko kehilangan jejak sejarah dan data akan terus berulang, hanya dengan skala yang jauh lebih besar mengingat jumlah anggota Muhammadiyah kini mencapai jutaan orang di seluruh Indonesia.


Migrasi ke Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah elektronik, atau e-KTAM, hadir bukan untuk menghapus nilai historis kartu fisik, melainkan untuk memastikan bahwa identitas keanggotaan setiap warga Muhammadiyah, dari pimpinan pusat hingga jamaah di ranting-ranting terpencil, tidak lagi bergantung pada selembar kertas yang bisa lapuk atau hilang.


Beberapa alasan mendasar mengapa migrasi ini menjadi keniscayaan:


  1. Ketahanan data Data digital yang tersimpan di server dan dicadangkan secara berkala jauh lebih tahan terhadap bencana alam, kebakaran, atau kerusakan fisik dibanding arsip kertas yang tersimpan di lemari kantor cabang atau ranting. 

  2. Verifikasi yang cepat dan akurat e-KTAM memungkinkan validasi keanggotaan dilakukan secara instan, mengurangi duplikasi data dan mempermudah proses administrasi organisasi, mulai dari musyawarah hingga pelayanan amal usaha.

  3. Integrasi sistem organisasi Data keanggotaan digital dapat terhubung dengan sistem informasi Muhammadiyah lainnya, memudahkan pemetaan potensi kader, distribusi informasi, hingga perencanaan program dakwah yang lebih tepat sasaran. 

  4. Warisan yang terdokumentasi Setiap kartu, setiap nama, dan setiap catatan keanggotaan dapat diarsipkan secara digital sehingga generasi mendatang tidak perlu lagi menunggu keajaiban seperti ditemukannya kartu KH Mas Mansoer untuk mengetahui jejak leluhur mereka di persyarikatan.


Digitalisasi Bukan Menghapus, Tapi Mengabadikan

Yang menarik dari kisah MPID PDM Surabaya adalah bagaimana upaya digitalisasi dan pelestarian arsip justru berjalan beriringan. Kartu fisik KH Mas Mansoer tetap disimpan dan dipamerkan sebagai artefak bersejarah di Museum Visual Muhammadiyah, namun keberadaannya kini juga dapat didokumentasikan secara digital agar informasi di dalamnya tidak lagi bergantung pada satu lembar fisik yang rentan rusak.


Semangat itulah yang mendasari migrasi e-KTAM: bukan menggantikan nilai historis kartu fisik, melainkan memastikan bahwa data dan identitas keanggotaan setiap warga Muhammadiyah tetap hidup, dapat diakses, dan terlindungi lintas generasi. Sama seperti museum visual yang menyelamatkan artefak masa lalu, e-KTAM hadir untuk menyelamatkan data masa kini agar tidak menjadi "kartu hilang" berikutnya yang baru ditemukan seratus tahun kemudian.


Penutup

Penemuan kartu anggota KH Mas Mansoer mengingatkan kita bahwa jejak sejarah organisasi sangat berharga, sekaligus sangat rapuh jika hanya disimpan dalam bentuk fisik. Melalui migrasi e-KTAM, LabMu mendorong transformasi digital sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan data keanggotaan Muhammadiyah, agar identitas setiap kader persyarikatan tidak lagi bergantung pada nasib selembar kertas, melainkan tersimpan aman dalam sistem yang terus terjaga dari masa ke masa.

Comments


bottom of page