Satu Tahun Membangun Satu Data Muhammadiyah


Satu tahun perjalanan SatuMu bukan hanya cerita tentang sebuah platform digital. Ini adalah cerita tentang bagaimana transformasi digital mulai bergerak dari pusat ke daerah, dari ruang pelatihan ke lingkungan organisasi, dan dari sekadar sistem enjadi gerakan bersama.
Pada November 2025, perjalanan itu dimulai.
Sosialisasi SatuMu disampaikan kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu, SatuMu mulai diperkenalkan sebagai bagian dari upaya membangun fondasi Satu Data Muhammadiyah.
Memasuki 2026, perjalanan tersebut berkembang.
Training of Trainer (ToT) mulai dilakukan di berbagai wilayah Indonesia. Dari Jawa hingga Papua, dari Sumatera hingga kawasan timur Indonesia, tim SatuMu PP Muhammadiyah mulai bertemu langsung dengan para penggerak Persyarikatan di daerah.
Hingga September 2026, sebanyak 36 PWM telah tersentuh program SatuMu, baik melalui sosialisasi maupun ToT.
Namun, angka tersebut hanya sebagian dari cerita. Karena yang sedang dibangun bukan sekadar sistem digital, melainkan cara baru untuk membuat Muhammadiyah semakin terhubung.
Dari Satu Wilayah, Menjangkau Indonesia
Perjalanan SatuMu sepanjang 2026 berlangsung secara bertahap.
Pada Januari, ToT dilakukan di Jawa Tengah, Lampung, dan Kalimantan Timur. Maret berlanjut ke Sumatera Utara dan Jawa Timur. April menjangkau Kalimantan Selatan, Jawa Barat, dan Riau.
Perjalanan kemudian terus bergerak ke Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Papua, Papua Barat Daya, hingga berbagai wilayah lainnya.
Pada September, Gorontalo menjadi salah satu wilayah terbaru yang mengikuti ToT SatuMu. Sementara itu, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Sulawesi Utara sudah TOT di Setember 2026 diganti akan terlaksana pekan pertama oktober.
Jika dilihat di peta, perjalanan tersebut membentuk satu cerita besar: SatuMu mulai bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dari barat hingga timur Indonesia. Namun perjalanan ini tidak selalu mudah.
Digitalisasi Ternyata Juga Membutuhkan Perjalanan Fisik
Ada ironi kecil dalam sebuah perjalanan digital.
Untuk membangun sistem digital yang menghubungkan organisasi, tim SatuMu justru harus melakukan banyak perjalanan fisik. Ada wilayah yang dapat dijangkau dengan penerbangan. Ada pula wilayah yang membutuhkan perjalanan darat, laut, atau kombinasi beberapa moda transportasi.
Kondisi geografis Indonesia menjadi tantangan tersendiri, khususnya untuk wilayah kepulauan dan daerah dengan akses transportasi yang terbatas. Tetapi justru di situlah salah satu pelajaran penting perjalanan SatuMu muncul.
Transformasi digital tidak cukup dilakukan dengan mengirimkan platform dan panduan. Ia membutuhkan manusia yang hadir, berdiskusi, mendengarkan persoalan di lapangan, mencoba bersama, dan mendampingi ketika ada kendala. Karena pada akhirnya, teknologi hanya akan bekerja ketika orang-orang yang menggunakannya siap untuk menjalankannya.
Semangat Digitalisasi Tidak Mengenal Usia
Peserta ToT SatuMu datang dari latar belakang dan rentang usia yang beragam, tidak semuanya memiliki tingkat literasi digital yang sama. Sebagian peserta bahkan berasal dari generasi yang mungkin tidak tumbuh bersama teknologi digital seperti generasi yang lebih muda. Tetapi ruang pelatihan menunjukkan sesuatu yang menarik.
Mereka tetap belajar.
Mereka mengikuti praktik.
Mereka mencoba.
Mereka bertanya ketika menemukan kesulitan.
Dan ketika ada kendala, Tim SatuMu PP Muhammadiyah hadir untuk membantu dan mendampingi. Di sinilah transformasi digital mendapatkan maknanya yang lebih luas.
Digitalisasi bukan milik generasi tertentu. Semangat untuk beradaptasi dengan perubahan juga tidak mengenal usia. Karena transformasi organisasi pada akhirnya merupakan kerja bersama seluruh unsur Persyarikatan.
ToT Bukan Garis Akhir
Training of Trainer sejak awal bukan dimaksudkan sebagai tujuan akhir. Peserta ToT dipersiapkan untuk menjadi bagian dari Tim SatuMu di tingkat PWM dan PDM.
Dari sinilah model implementasi SatuMu mulai berubah. Jika pada awalnya proses banyak bergerak dari PP Muhammadiyah ke daerah, setelah ToT pengetahuan dan pendampingan mulai diteruskan melalui jenjang organisasi:
PP Muhammadiyah → PWM → PDM → PCM → PRM
PWM dan PDM mulai mengambil peran dalam melakukan Bimbingan Teknis, membantu aktivasi organisasi, mendampingi Agen dan Verifikator, memantau perkembangan aktivasi, serta mendorong kelengkapan dan pembaruan data organisasi.
Dengan pola tersebut, SatuMu mulai bergerak dari program pelatihan menjadi gerakan yang tumbuh di daerah. Dan ini mungkin menjadi salah satu perubahan paling penting dalam perjalanan satu tahun pertamanya.
Ketika Daerah Mulai Mengambil Peran
Perubahan itu mulai terlihat dalam berbagai bentuk. Di Sumatera Utara, misalnya, muncul vest atau uniform Tim SatuMu sebagai identitas bagi mereka yang terlibat dalam proses transformasi digital di wilayah tersebut.
Di tingkat daerah, PCM di PDM Cilacap juga membuat korsa atau uniform SatuMu.
Sekilas, korsa mungkin terlihat sederhana. Tetapi di baliknya terdapat sesuatu yang lebih penting yaitu rasa memiliki.
SatuMu mulai tidak hanya dipandang sebagai sistem yang datang dari pusat, tetapi sebagai sesuatu yang ikut dijalankan oleh orang-orang di daerah. Ketika sebuah sistem mulai memiliki orang-orang yang merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya, di situlah sebuah implementasi mulai berubah menjadi gerakan.
Gerakannya Tidak Berhenti di Ruang Pelatihan
Setelah ToT dan Bimtek selesai, komunikasi mengenai SatuMu terus bergerak. PWM dan PDM mulai membagikan informasi melalui media sosial organisasi. Informasi juga diteruskan melalui WhatsApp group pengurus maupun grup pribadi anggota Persyarikatan.
Cara komunikasinya sederhana, tetapi dampaknya penting. Karena transformasi digital tidak akan terjadi jika hanya diketahui oleh mereka yang mengikuti pelatihan.
Semakin banyak warga Persyarikatan yang mengetahui, memahami, dan kemudian menggunakan sistem, semakin besar pula kemungkinan SatuMu menjadi bagian dari keseharian organisasi.
Angkanya Mulai Bergerak
Per 10 September 2026, perkembangan aktivasi menunjukkan bahwa implementasi SatuMu mulai bergerak secara signifikan di berbagai jenjang organisasi. 100% PWM telah aktif, dengan 38 PWM aktif.
Pada tingkat PDM, 95% telah aktif, atau 457 dari 483 PDM terdaftar. Di tingkat PCM, aktivasi telah mencapai 55%, dengan 2.398 PCM aktif dari 4.353 PCM terdaftar.
Sementara pada tingkat PRM, aktivasi telah mencapai 35%, dengan 5.961 PRM aktif dari 17.053 PRM terdaftar. Jika dibandingkan dengan awal pemantauan pada Maret 2026, pertumbuhannya terlihat semakin jelas. Aktivasi PDM meningkat dari 62,9% menjadi 95%.
PCM meningkat dari 10,4% menjadi 53% berdasarkan seri data bulanan yang dicatat, sementara PRM meningkat dari 3,6% menjadi 33%. Angka-angka tersebut menunjukkan satu hal bahwa SatuMu mulai bergerak semakin jauh dari pusat dan semakin dekat dengan struktur organisasi di tingkat bawah.
Dari Aktivasi Menjadi Ekosistem Data
Salah satu perkembangan yang mengikuti perjalanan SatuMu adalah penggunaan e-KTAM. Per 10 September 2026, PWM Jawa Tengah tercatat memiliki jumlah kepemilikan e-KTAM tertinggi, yaitu 17.336+ e-KTAM dari 67.526 anggota.
Di sini, e-KTAM bukan sekadar identitas digital. Ia menjadi salah satu bagian dari upaya membangun basis data anggota yang semakin terintegrasi dan terdokumentasi.
Karena semakin baik organisasi mengenali anggotanya, semakin besar pula peluang organisasi untuk memahami potensi, kebutuhan, dan kondisi warganya dengan lebih baik.
Pada akhirnya, tujuan dari satu data bukan hanya membuat data menjadi satu. Tujuannya adalah membuat organisasi menjadi lebih mampu membaca dirinya sendiri.
Setiap Daerah Punya Cara Sendiri
Menariknya, perjalanan SatuMu juga menunjukkan bahwa transformasi tidak harus ditempuh lewat jalan yang sama.
Empat PWM telah mencapai tingkat aktivasi PCM di atas 95%: PWM Jawa Tengah, PWM DI Yogyakarta, PWM Papua Tengah, dan PWM Sumatera Barat.
Capaian tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah lain. Tetapi bukan berarti pendekatannya harus diseragamkan. Setiap wilayah memiliki karakter organisasi, geografis, sumber daya manusia, dan tantangan yang berbeda.
Karena itu, perjalanan SatuMu justru menunjukkan bahwa satu sistem dapat dijalankan melalui berbagai pendekatan di lapangan. Yang penting bukan menyeragamkan caranya.
Yang penting adalah menjaga tujuan bersama: membangun data organisasi yang semakin lengkap, terhubung, dan dapat digunakan.
Satu Tahun Bukan Akhir Perjalanan
Setahun setelah langkah pertamanya dimulai, SatuMu telah bergerak cukup jauh.
Dari sosialisasi awal di Yogyakarta, menuju berbagai wilayah Indonesia.
Dari ruang ToT, menuju Bimtek di daerah.
Dari peserta pelatihan, menjadi Agen, Verifikator, dan Tim SatuMu.
Dari PP Muhammadiyah, menuju PWM, PDM, PCM, dan PRM.
Dari sebuah sistem, menuju gerakan yang mulai tumbuh bersama organisasi.
Tetapi perjalanan ini belum selesai.
Masih ada PCM dan PRM yang perlu diaktifkan, masih ada wilayah yang belum mendapatkan ToT. Masih ada perbedaan literasi digital yang perlu didampingi, masih ada tantangan geografis yang harus dihadapi.
Dan yang tidak kalah penting, masih ada pekerjaan untuk memastikan bahwa data yang telah dikumpulkan terus diperbarui, diverifikasi, dan benar-benar digunakan.
Karena membangun Satu Data Muhammadiyah bukan pekerjaan satu tahun. Ini adalah pekerjaan membangun fondasi organisasi untuk jangka panjang.
Dari Satu Data Menuju Muhammadiyah yang Lebih Terhubung
Pada akhirnya, perjalanan SatuMu bukan tentang seberapa banyak pelatihan yang telah dilakukan. Bukan pula sekadar tentang berapa banyak organisasi yang telah aktif.
Angka-angka tersebut penting, tetapi cerita yang lebih besar ada di baliknya.
Ada orang-orang yang bersedia belajar, ada pimpinan daerah yang mengambil peran.
Ada Agen dan Verifikator yang mendampingi, ada tim yang menempuh perjalanan panjang untuk hadir di daerah.
Ada organisasi yang mulai membagikan informasi melalui media sosial dan grup WhatsApp, ada pula daerah yang mulai menciptakan identitas dan cara mereka sendiri untuk menggerakkan transformasi digital.
Semua itu menunjukkan bahwa membangun satu data pada akhirnya bukan hanya pekerjaan teknologi.
Ini adalah pekerjaan manusia.
Dan satu tahun pertama SatuMu telah memperlihatkan bahwa ketika teknologi, data, dan manusia bergerak bersama, sebuah sistem dapat berkembang menjadi gerakan. Perjalanan berikutnya adalah memastikan gerakan tersebut terus tumbuh.
Dari PWM ke PDM.
Dari PDM ke PCM.
Dari PCM ke PRM.
Hingga akhirnya, satu data benar-benar menjadi fondasi yang membuat Muhammadiyah


